Britawakanda -- Nama Yai Mim dan Sahara viral di media sosial. Keduanya bertetangga di Perumahan Joyogrand, Kelurahan Merjosari, Kota Malang. Yai Mim atau Imam Muslimin adalah dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang. Sedangkan Sahara adalah pemilik usaha rental mobil yang buka showroom di rumahnya.
Masalah bermula dari urusan sepele antara Yai Mim dengan tetangganya, Sahara, yakni soal parkir mobil rental yang sering diparkir di depan rumah Yai Mim. Dari sini, keributan membahana ke seluruh tanah air via jagad media sosial, gara-gara Sahara membagikan video konfliknya dengan Yai Mim ke TikTok.
Kepada Denny Sumargo alias Densu di Youtube @Curhat Bang Denny Sumargo, Yai Mim menyebut, lahan tersebut sejatinya merupakan tanah wakaf yang harusnya difungsikan sebagai akses jalan umum, bukan untuk kepentingan bisnis pribadi.
Dari situ konflik jadi melebar ke mana-mana. Yai Mim dan Sahara saling melaporkan satu sama lain ke kepolisian. Tuduhannya, mulai dari pencemaran nama baik, fitnah, hingga pelecehan. Jadilah seantero Nusantara tahu pertengkaran mereka.
Melansir tirto.id, meski Yai Mim dan istrinya, Rosida Vignesvari, telah beberapa kali meminta agar mobil dipindahkan, permintaan itu sering diabaikan.
Ketegangan memuncak ketika Yai Mim dan Rosida pulang dari Jakarta dan mendapati mobil Sahara menghalangi pintu pagar rumah mereka. Saat diminta memindahkan, Sahara justru menyuruh Yai Mim melakukannya sendiri.
Dalam proses itu, Yai Mim mengaku secara tidak sengaja menginjak gas terlalu dalam, yang menimbulkan suara gaduh dan memperburuk suasana.
Situasi kian memanas ketika Sahara masuk ke rumah Yai Mim tanpa izin untuk menjemput anaknya yang sedang bermain di dalam. Ia bahkan mengunci pintu dari dalam, dengan dalih agar anaknya tidak keluar rumah.
Kala itu, Yai Mim sedang berada di lantai atas, hanya mengenakan celana pendek (boxer) karena sedang mencuci pakaian. Melihat kondisi tersebut, Sahara meneriakinya dengan sebutan “cabul”, yang kemudian dijadikan narasi utama dalam video-video pertengkaran yang ia unggah di TikTok. Dari medsos inilah api membara "membakar" Indonesia. Perseteruan personal yang belakangan ini viral di media sosial antara Yai Mim dan Sahara telah menjadi tontonan massal yang membelah warganet. Netizen pun terbelah, antara yang mendukung Yai Mim dan Pro Sahara.
Sementara itu, warga lingkungan tempat tinggal sudah mulai merasa gerah dengan konflik mereka. RT dan RW setempat bahkan sempat mengeluarkan surat pengusiran terhadap Yai Mim, dengan alasan situasi sudah mengganggu ketertiban warga.
Kenapa kasus di lingkungan RT ini bisa menasional?
Menurut pengamat media dan Dosen Ilmu Komunikasi dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sugeng Winarno, M.A., kasus ini adalah cermin sempurna bagaimana media sosial, dengan segala mekanismenya, mampu mengubah konflik pribadi menjadi arena perang narasi berskala nasional.
“Kalau saya melihat kasus Yai Mim dan Sahara ini menggelinding semakin besar, ini karena peran media sosial,” kata Sugeng kepada Berita Jatim.
Fenomena ini, menurutnya, bukanlah sekadar perdebatan biasa. Ia merupakan studi kasus tentang bagaimana pengadilan oleh netizen atau trial by netizen terbentuk, didorong oleh algoritma yang menciptakan fanatisme buta dan narasi yang jauh dari kebenaran objektif.
Mudah-mudahan kedua belah pihak bisa saling berdamai. Dan Sahara, yang usianya lebih muda bisa lebih menurunkan tensi dan mendinginkan kepala. Mengutip lirik Anggun "...snow to fall on the Sahara" (Oce)
