Seragam, Senjata, dan Pasal-Pasal




/Oce Satria

KENAPA polisi di manapun di dunia, lebih berkesan sangat berkuasa dan seakan-akan memiliki otoritas tersembunyi atas orang lain yang bukan polisi? Apakah karena seragam mereka yang mentereng dan berwibawa itu?

Seragam memang memberi kesan tertentu pada manusia. Mengapa jika berhadapan dengan orang memakai seragam (uniform) ada semacam perasaan gentar muncul? Setidak-tidaknya ada rasa kagum, rasa hormat dan seterusnya. Sebut saja seragam manapun. Seragam sekolah memunculkan persepsi kita tentang kepatuhan mereka pada institusi sekolah. Seragam ambtenaar menimbulkan kesan mereka adalah abdi negara dan berkesan nyaman (hidupnya). Seragam kelompok emak-emak senam mengirim pesan kekaguman pada kita. Seragam ormas membuat kesan bagak pada yang memakainya. Seragam militer memberi aura patriot. Seragam polisi, menumbuhkan kesan bermacam-macam: wibawa, angker, tegas, dan pengatur segala urusan.

Seragam menghasilkan persepsi kompak, ekslusif, satu-satunya, dan penanda.

Kekuatan dahsyat seragam yang memengaruhi psikologis pernah juga membikin Leonard Bickman, seorang peneliti asal Amerika, penasaran. Bickman kemudian menguji asumsi-asumsi soal kepatuhan dan rasa hormat kepada petugas berseragam yang berkembang di masyarakat. 

“Secara psikologis, seragam memang memengaruhi persepsi orang. Masyarakat memandang ‘orang berseragam’ sangat berbeda,” tulis Bickman dalam laporan ilmiah “The Social Power of a Uniform” yang dimuat Journal of Applied Social Psychology (1974) seperti dikutip tirto.id. 

Dalam risetnya, Bickman membuat tiga permodelan busana untuk diamati, yaitu busana kasual sebagai representasi warga sipil, busana yang biasa dipakai pekerja seperti tukang susu, dan baju seragam abu-abu seperti polisi. Ketiga model lalu diminta memberi perintah kepada sampel acak untuk memungut kertas, berderma kepada orang tak dikenal, dan menjauh dari halte. 

Hasilnya, orang-orang yang jadi sampel lebih patuh pada perintah dari model yang berseragam mirip polisi ketimbang warga sipil atau tukang susu. Studi tersebut menguatkan asumsi bahwa pakaian memiliki dampak kuat pada persepsi orang.

Pakaian turut melambangkan otoritas. Orang-orang dengan seragam aparat, para dokter dengan jas putih, atau pra hakim dengan jubah hitamnya dipandang berperilaku dengan cara tertentu dan diasumsikan memiliki status pendidikan, ekonomi, serta status sosial berbeda. Begitu juga dengan pakaian seksi atau tertutup.

“Perempuan dengan pakaian seksi memiliki stigma lebih ‘nakal’ dibanding mereka yang berpakaian konservatif (tertutup),” tulis Kim Johnson dkk. dalam studi bertajuk “Dress, body and self: research in the social psychology of dress” (2014, PDF).

Warna sersgam juga berpengaruh.  Sebagai contoh sederhana, tengoklah aparat penegak hukum yang cenderung melabeli diri mereka dengan seragam bernuansa gelap: cokelat, hijau, atau hitam. Bukan tanpa maksud, warna-warna tersebut dipilih karena punya karakteristik kuat. 

Itu sedikit bahasan tentang seragam. Namun,  kembali ke soal awal tadi, mengapa orang berseragam polisi di manapun di dunia, lebih berkesan sangat berkuasa dan seakan-akan memiliki otoritas tersembunyi atas orang lain yang bukan polisi? 

Atau karena sejak usia PAUD kita sudah ditakut2i orangtua dengan ancaman "Ayo makan,  nanti ada polisi lho!" kepada balitanya yang ogah2an makan.  Sosok polisi dijadikan alat untuk menakut2i anak sendiri.  Kasihan polisinya...

Namun pada kenyataannya sosok polisi memang menjadi "hantu" bagi umumnya orang. Kenapa?

Pertama, selain soal seragam yang kata Leonard Bickman tadi, secara psikologis memengaruhi persepsi orang, juga karena hal lain yakni soal otoritas.

Polisi adalah penegak hukum. Ia didiamanahkan setumpuk kitab undang-undang yang berkaitan dengan sanksi pidana yang dibunyikan dalam pasal-pasal. Polisi mengurusi itu. Karena itu muncul persepsi (dan sejatinya begitu faktanya) bahwa polisi menjadi pihak yang bisa menentukan nasib status hukum seseorang. 

Sudah pakai seragam, di tangan kiri kitab undang-undang, lalu di tangan kanan ada pula senjata. Lengkap sudah. Powerfull untuk memaksa siapa pun yang coba-coba melawan hukum.

Dslam penelitian Erik Saut H Hutahaean 
dari Universitas Bhayangkara Jakarta Raya beberapa tahun lalu, disebutkan (ia mengutip Diuguid (2014) bahwa, kepemilikan senjata api (guns)  memberikan orang-orang yang 
memegangnya perasaan (sense) tentang 
kekuatan dan kontrol keamanan.

Senjata api (firehand/handgun) adalah salah satu alat penunjang yang dipakai untuk melakukan tugas-tugas bidang menjaga keamanan. . Hal ini dengan kondisi-kondisi  psikologis  dapat memengaruhi perilaku penggunaannya. 

Penelitian yang diungkap oleh De Camargo (2012), penggunaan seragam dan profesi kepolisian biasanya dapat memberikan kontaminasi terhadap kehidupan. Yaitu kontaminasi mendapatkan kepemilikan keadaan personal, berupa kepemilikan titel status tertentu. Seperti yang diuraikan oleh Herzog (2001), bahwa tampilan polisi menjelaskan kepemilikan tentang profesional police goals. Yaitu berperang melawan kejahatan dan juga memberikan pelayanan

Hasil dari sebuah penelitian experimental terkait dengan pakaian kedinasan, menunjukan bahwa pemikiran mengenai pakaian (yang dipakai jalankan tugas tertentu) dapat memengaruhi proses psikologis dari orang-orang yang menggunakannya (Adam dan Galinsky 2012). 

Seragam yang dikenakan polisi saat bertugas mempunyai hubungan yang kuat dengan aspek kekuatan (power) dan kewenagan (authority). Seperti hasil penelitian yang diterangkan di dalam Doran (2009), yaitu tentang penggunaan seragam polisi. Di mana proses psikologis yang terjadi adalah individu mendapatkan visualisasi tentang dirinya sebagai seorang penegak hukum, dengan hak keprofesian sebagai polisi. 

Individu yang mengenakannya  merasa memiliki otoritas dalam bidang  hukum, sehingga bisa memperlihatkan kekuatan-kekuatan yang dapat 
menginspirasikan orang-orang yang melihatnya untuk memberikan respon patuh dan tunduk. 

Namun, menurut saya, ketiga instrumen itu: seragam, kitab hukum, dan senjata juga bisa memengaruhi mental buruk bagi oknum polisi. Dalam istilah pasar kita menyebutnya petantang petenteng, karena merasa punya kekuatan penuh. Dari jadi begal, ikut jadi bandar narkoba, membekingi judi dan segala hal bromocorah dunia gelap. Ada oknum polisinya. Dan sebagian sudah ditangkap oleh polisi yang baik. Karena jelas mereka mencoreng jiwa Tribrata Sewakottama Polri.

Karena mentalitas buruk itu memang ada polisi dari segala tingkatan yang berbuat semaunya. Merasa paling berkuasa. Dan itu sudah jadi fakta umum di mana kita lihat oknum berperilaku buruk justru karena merasa berkuasa.  Perilaku ini tentulah yang dibenci Jenderal Soegeng. Polisi legendaris itu.

Selamat bertugas Pak Polisi

Oce Satria, 
anak pensiunan polisi

TNCMedia

Dukung editor dan penulis situsweb ini via Bank Rakyat Indonesia (BRI) No Rek: 701001002365501 atau ke BRI No Rek: - 109801026985507 Kontak: 082113030454

Lebih baru Lebih lama

ads

ads

نموذج الاتصال