Oce
Karena dari sepekan ini ramai bahasan MERDEKA BELAJAR, banyak postingan guru-guru di medsos. Saya penasaran juga.
Lalu seorang guru bercerita tentang kegiatan pelatihan merdeka belajar yang dia ikuti.
Narasumbernya (tentu harus cerdas) dari sebuah lembaga bentukan pemerintah.
Jadi, di pelatihan itu tahulah dia bahwa yang sebenar inti dari konsep Merdeka Belajar ini adalah, Kemendikbud ingin mengubah konsep mengajar dan metode pembelajaran agar menumbuhkan sikap kritis dan kebebasan menemukan bakat dan kemampuan peserta didik (sebut saja murid, napa).
Pokoknya merdekalah.
Jadi, dalam pelatihan diajarkan apa itu Capaian Pembelajaran (CP) dan Tujuan Pembelajaran (TP). Lalu, murid tidak lagi dilihat dalam sistem kelas (1,2,3,4,5,6) tapi fase ABC.
Karena si guru ini sudah bertungkus lumus mengajar, maka timbul pertanyaan di kepalanya (kita sebut saja daya kritis). Ia bertanya pada si narasumber;
"Kalau metode fase itu dipakai, bagaimana menuntaskan pelajaran pada kelas tertentu,? Dengn sistem fase niscaya akan ada kelas yang longkap (terlewati)," tanya si guru ini.
Si narasumber terlihat gagap mendapatkan pertanyaan yang tak ia duga. Dengan sedikit memaksa ia menjawab;
"Pokoknya Ibuk ikuti saja dulu. Ini dari pemerintah pusat. Kalau ibuk tak paham silakan tanya ke pemerintah!" suaranya meninggi (salah satu konsep MERDEKA BELAJAR ia langgar tanpa sadar).
Si guru, peserta pelatihan ini tak puas lalu melanjutkan pertanyaan yang masih berhubungan dengan fase tadi. Begitupun teman-temannya sesama peserta pelatihan. Mereka menanyakan banyak hal sulit yang alan ditemukan di lapangan.
Lalu bahasan soal bagaimana mencapai tujuan pembelajaran. Disebutkan, harus ada kreativitas dan kebebasan guru menggunakan metode supaya tujuan bisa cepat tercapai.
"Bu Narasumber, apakah boleh kami, misalnya mengelompokkan anak per poin agar sasaran bisa cepat dicapai?"
Lagi-lagi, si narsum tak enakan. "Itu namanya ibuk mau enaknya sendiri! Ya ndak bisa. Harus sesuai modul MERDEKA BELAJAR!"
Emosi lagi.
Tak berhenti sampai di situ, pertanyaan demi pertanyaan terus berhamburan dari peserta pelatihan. Tetek bengek konsep MERDEKA BELAJAR terus mereka kulik. Rasa ingin tahu memunculkan pertanyaan. Namanya juga bahas barang baru, tentu saja memunculkan pertanyaan-pertanyaan.
Sayangnya, menghadapi "murid-murid" kritis itu, si ibuk narasumber justru gagap dan tak mampu menjawab dengan memuaskan. Malah emosian. Padahal, di awal ia sudah menyebutkan tujuan MERDEKA BELAJAR adalah memunculkan sikal kritis, nalar, dan bebas memilih minat.
Begitulah. Orang kadang kalau tak siap, maka ketika ditanya malah bersikap defensif protektif terhadap lubang kelemahannya sendiri. Lucunya, ia juga gagal mempraktikkan sikap-sikap yang dituntut dari guru dalam konsep MERDEKA BELAJAR tersebut.
Ini malah emosian dan baperan.
Gimana mau menghadapi bocah-bocah yang bejibun?
"MURID PERTAMA DARI KATA2 KITA ADALAH DIRI SENDIRI" begitu kata sebuah quote pernah saya baca.
Itulah sisa-sisa cerita yang sempat saya resumekan. Daripada ndak ngapa-ngapain aja ini mah sambil ngeronda.
Tags
Paradoks
