BritaWakanda -- Kisah Westerling di Indonesia baru dimulai pada September 1945, saat ia menjadi perwira untuk KNIL --cabang militer Belanda untuk Hindia-Belanda-- di Medan, Sumatera Utara.
Keadaan Kota Melayu Deli waktu itu sarat kekacauan saat Belanda coba menegakkan kembali kedaulatannya yang sempat dilucuti Jepang sejak t555ahun 1942. Akan tetapi, upaya tersebut terhalang situasi keamanan pasca-kemerdekaan di mana kelompok bandit melakukan kejahatan secara acak, menyasar orang Eropa dan Indonesia.
Melihat pergolakan yang tak kunjung usai serta peliknya situasi, Westerling--atas restu petinggi KNIL--membentuk regu intelijen dan polisi khusus untuk 'meredakan' situasi. Metodenya sarat dengan kekerasan, namun dianggap efektif. Salah satunya ialah menangkap pemimpin kelompok bandit, lalu mengeksekusinya secara brutal.
Hal tersebut ia ceritakan dalam buku memoarnya, Challenge to Terror (1952). "Kami menusuk kepala pemimpin kelompok Terakan (nama kelompok bandit) yang sudah dieksekusi kemudian menancapkannya tepat di tengah wilayah desa. Di bawahnya, kami menulis peringatan untuk para anggota yang lain. Jika mereka bersikukuh masih ingin berbuat kejahatan, kepala mereka akan mendapat perlakuan yang sama."
Usai membantu pemulihan kondisi di Medan, Westerling kemudian dipindahkan ke Makassar pada 15 November 1946. Dengan pangkat Letnan II, ia dipercaya memimpin regu Depot Specialen Troepen yang terdiri dari 130 serdadu campuran Belanda, Indo-Belanda, dan Indonesia. Tugasnya pun sama, memulihkan keamanan dan ketertiban di Sulawesi Selatan.
Westerling rupanya memilih melaksanakan metodenya sendiri ketimbang berpegang pada Voorschrift voor de uitoefening van de Politiek-Politionele Taak van het Leger (Pedoman Pelaksanaan untuk Tugas di Politik dan Polisional Angkatan Darat), aturan tertulis untuk para tentara Belanda di Indonesia.
Cara kerja regu Westerling seperti ini. DST mengepung pemukiman yang dicurigai jadi persembunyian gerilyawan pada malam hari, lalu menggiring penduduk ke tengah desa.
Proses interogasi baru dimulai pada pagi hari. Dipimpin langsung oleh Westerling, pria dipisahkan dari wanita dan anak-anak. Lewat info mata-mata dan intimidasi, Westerling membuat orang-orang tertentu mengaku sebagai "teroris dan pembunuh". Setelah mengaku, mereka langsung ditembak mati di tempat tanpa investigasi lanjutan.
Pembantaian Belanda bersama pasukannya di Kota Rengat dan Lirik, Indragiri Hulu dalam Peristiwa 5 Januari 1949.
Hal ini dibenarkan Ketua Ikatan Keluarga Besar Masyarakat Indragiri (IKBMI), Susilowadi. Menurutnya, 5 Januari menjadi hari bersejarah bagi kota Rengat. Dimana, 2.600 orang masyarakat kota Rengat dibantai oleh pasukan elit Belanda Speciale Troepen.
Sejak usia lima tahun ia telah ditinggalkan orang tuanya yang merupakan pedagang karpet, lalu hidup di panti asuhan. Di sanalah ia terbentuk menjadi seorang yang keras dan tidak bergantung pada siapapun. Buku-buku perang yang sejak kecil dibacanya membentuk ambisinya untuk benar-benar ingin merasakan suasana perang.
Ketika diberhentikan sebagai kapten tahun 1949, Dia hidup di kawasan perbukitan di Cililin dan Pacet, Jawa Barat. Dia menceraikan istrinya di London yang telah dinikahinya selama empat tahun.Kemudian pada tahun yang sama, dia menikahi perempuan Indis keturunan Prancis, Yvone Fournier. Di sana, memanfaatkan truk milik KNIL, ia hidup dengan menjalani pekerjaan sebagai penyedia jasa angkutan perbekunan.
Saat Kudeta APRA gagal, ia menjadi buronan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) dan Polisi Milter Belanda. Selama dibiarkan lenyap demi alasan hubungan diplomatis, ia hidup dari pelarian ke pelarian.
Setelah pelarian panjangnya, ia dan istrinya akhirnya bisa sampai ke Belanda dan hidup di sebuah kota kecil di Provinsi Friesland. Si garang ini menjalani masa tuanya sebagai seorang penyanyi dan juga pernah membuka toko buku.
Dia tidak terbunuh di medan perang, tetapi dikalahkan oleh penyakit gagal jantung pada tahun 1987. Pengabdian terhadap negaranya malah dihadiahi kambing hitam untuk dirinya.
Berpuluh tahun setelah kematiannya, akhirnya pemerintah Belanda menyatakan permohonan maaf atas Pembantaian Westerling, dan memberikan kompensasi kepada istri-istri korban pembantaian. (Net)
#bukanceritalucu
#kisahtragistempodulu
Tags
Faktual
