DITUDUH menyimpan uang kertas 100 dollar palsu sebagai uang jaminan untuk bisa duduk di sebuah kursi mewah, seorang lelaki tua agak kurusan meradang. Berbulan bulan ia jadi bulan-bulanan publik.
Ia pun mengadu pada kantor sherif. Dan ia senang. Aduannya diterima, diproses. Tak lama kemudian sejumlah orang yang menuduhnya memakai uang palsu, ditetapkan sebagai pesakitan. Si bapak itu tersenyum puas, sambil mendehem dalam hati, "Gue dilawan!"
Kritik pun berhamburan dari penduduk County, wilayah hukum persherifan. Dari emak-emak yang sedang menyetrika sekeranjang pakaian sampai profesor norma dan peraturan. Semua sepakat bahwa uang kertas miliknya yang dituduh palsu itu harus dibuktikan dulu oleh pakarnya, ahli Penglihat, Peraba, dan Penerawang (3P).
Yang harus dibuktikan adalah, apakah tandatangan Secretary of The Treasury yang tertera di situ, asli atau palsu? Edisi kapan uang itu? Apakah punya benang pengaman? Bagaimana dengan keotentikan tulisan, gambar founding father Banjamin Franklin-nya asli atau hasil rekayasa, dan ornamen yang tertera di lembaran uang kertas yang diklaim asli oleh pemiliknya itu?
Tapi status pesakitan sudah kadung diteken oleh pihak berwajib yang entah sudah bersunat atau belum itu. Artinya kasusnya bakal mulus naik ke ruang sidang.
Tapi terbetik pemahaman baru bahwa nanti, ia mau tak mau harus membawa uang 100 dollar yang dipermasalahkan ke majelis persidangan.
Sampai di sini, si bapak itu baru sadar, kalau kejujurannya diperkarakan dan disidang, artinya ia nanti akan dipanggil si pemegang palu keadilan untuk datang dengan uang kertas yang dipermasalahkan. Mungkin bisa diwakili kuasa hukumnya. Pokok soal yang dipersoalkan harus diperiksa bersama ahli 3P untuk memastikan statusnya: asli atau palsu. Ia pun berpikir keras dan menghela napas panjang pendek gara-gara kemungkinan itu. Antara menyesal dan dan secuil kenekatan, sebagaimana stigmanya saat jadi orang penting dulu kala. Mungkinkah ia masih bisa punya pengaruh untuk mempengaruhi otoritas yang sedang berkuasa untuk menyelamatkannya?
Di sini muncul dilema pada dirinya, mungkin juga bagi pendukung militannya yang kadung girang karena musuh bebuyutan mereka sudah dipesakitkan oleh petugas: apakah hasrat mereka bakal disetujui hakim?
Pertanyaan sekaligus dugaan ini berdasarkan fakta empiris selama ini di mana ia tak punya keberanian memperlihatkan uangnya sendiri ke hadapan khalayak. Padahal uang kertas 100 dollar bukan aib tapi prestise sekaligus prestasi. Pernah sekali ia konon menampakkannya di rumahnya, tapi hanya sekilas saja, lalu diumpetin lagi cepat cepat. Khalayak tak leluasa meneliti untuk memastikan itu uang kertas asli atau uang kertas palsu keluaran mesin cetak pasaran, seperti yang pernah dipunyai seorang pejabat kampus beberapa waktu lalu.
Kasus yang sebenarnya sepele penyelesaiannya ini menjadi bertele² karena diduga ada yang tak beres pada sejarah hidupnya sendiri. Padahal, cara paling gampang dan berbiaya murah adalah, pergi saja ke toko emas. Minta tolong orang toko emas menerawang uang dengan mesin terawangan milik mereka. Selesai.
Tapi, masalahnya, kalau memang itu uang kertas asli, kenapa takut memperlihatkan sejak dulu?
Pak sherif sedang berdiskusi dengan para deputi sherif lainnya, dan mereka sampai pada kesimpulan bahwa tugas mereka selesai, urusan berikutnya tugas otoritas fase selanjutnya. Beban selesai. Padahal mereka sudah diwanti-wanti oleh mantan sherif senior mereka bahwa masalah pokok yakni uang kertas itu harus dibuktikan dulu asli atau tidaknya secara hukum, baru boleh mempesakitkan orang.
Tapi kantor sherif susah dikritik, mungkin menyangkut politik politikan juga. Di banyak daerah pedesaan Amerika Serikat, terutama di Selatan dan Barat , sheriff secara tradisional dipandang sebagai salah satu pemegang jabatan politik paling berpengaruh.
Penelitian menunjukkan bahwa sheriff memiliki keunggulan substansial dalam pemilu. Sheriff memiliki peningkatan 45 poin persentase dalam kemungkinan memenangkan pemilu berikutnya.
Banyak kantor sheriff juga menjalankan fungsi lain seperti pengaturan lalu lintas, penegakan hukum hewan, transportasi , petugas sumber daya sekolah , pencarian dan penyelamatan, hutan, dan lainnya. Itu kata wikipedia.
Mudah²an kepala sherif bisa netral dan berintegritas. Kecuali ia hendak meniru Lee Baca, sherif Los Angeles County, California , 1998–2014, yang dikenal suka memberikan perlakuan khusus kepada orang-orang terkenal dan berpengaruh. Ia menciptakan "Program Cadangan Khusus" untuk itu.
Mudah²an saja nanti uang itu terbukti asli. Selesai perkara, dan si penuduh masuk penjara. Karena berani-beraninya menuduh si bapak kurusan sebagai si pemalsu uang kertas.
Dan andai terbukti palsu, bagaimana dengan status keabsahan kedudukannya di kursi mewah yang pernah didudukinya cukup lama itu? Bakal semrawut, rumit dan bersengkarut secara konstitusi atau produk hukum yang dihasilkan, dll, bukan?
Tapi apa boleh baut, nasi sudah di dubur.....
(Oce)
Tags
Indonesiana
